SPA vs CSPA: KAPAN DIGUNAKAN DAN BAGAIMANA MENENTUKAN STRATEGI YANG TEPAT?

HOME / ARTIKEL HUKUM

Shares Purchase Agreement

SPA vs CSPA: KAPAN DIGUNAKAN DAN BAGAIMANA MENENTUKAN STRATEGI YANG TEPAT?

“Bu Lita, dalam transaksi jual beli saham, kapan cukup pakai SPA saja dan kapan perlu dibuat CSPA lebih dulu? Kalau CSPA sudah ditandatangani dan seluruh Condition Precedent sudah terpenuhi, apakah otomatis berlaku, atau tetap perlu SPA terpisah?”

Pertanyaan ini sering saya terima dalam proses negosiasi investasi maupun corporate restructuring. Jawabannya bukan hanya soal memilih template perjanjian, tetapi lebih jauh merupakan strategi mitigasi risiko dan penentuan momentum eksekusi transaksi.

SPA (Share Purchase Agreement) tepat digunakan ketika transaksi sudah siap langsung dilaksanakan. Seluruh aspek telah disepakati final, tidak ada syarat pendahuluan, dan para pihak siap melakukan transfer saham serta pembayaran pada saat SPA ditandatangani. Biasanya terjadi pada transaksi sederhana antar pihak yang sudah saling memahami posisi bisnisnya, tidak melibatkan investor baru atau struktur korporasi yang berubah secara fundamental.

Sebaliknya, CSPA (Conditional Share Purchase Agreement) digunakan ketika transaksi belum dapat langsung dieksekusi karena masih ada syarat pendahuluan (Condition Precedent) yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Pada tahap ini, para pihak baru menyatakan komitmen untuk bertransaksi setelah syarat tersebut terpenuhi. CP ini dapat berupa persetujuan regulator, hasil due diligence, penyelesaian sengketa hukum atau pajak, perubahan Anggaran Dasar, hingga persetujuan dari pemegang saham atau kreditur.

Pada saat CSPA ditandatangani, transaksi secara hukum belum terjadi. Para pihak baru mengunci intensi dan syarat pelaksanaan transaksi.

Apabila CSPA secara tegas menyatakan bahwa setelah seluruh CP terpenuhi perjanjian tersebut otomatis berlaku sebagai SPA pada tanggal closing, maka tidak perlu dibuat SPA terpisah. Kendati demikian, tindakan administratif tetap harus dilaksanakan sesuai UUPT, seperti penandatanganan akta pemindahan saham dan pencatatan perubahan dalam Daftar Pemegang Saham.

Dalam transaksi kompleks atau bernilai strategis, umumnya CSPA hanya berfungsi sebagai perjanjian komitmen awal, dan setelah CP terpenuhi, tetap dibuat SPA final. SPA pada tahap ini menjadi momen pengesahan ulang seluruh aspek transaksi, termasuk nilai saham yang akan dialihkan, mekanisme pembayaran, representations and warranties final, serta perlindungan melalui indemnity apabila di kemudian hari muncul kewajiban tersembunyi.

Matriks Pertimbangan Pemilihan SPA vs CSPA Berdasarkan Risiko

Tingkat Risiko Karakteristik Transaksi Instrumen yang Disarankan
Risiko Rendah Struktur sederhana, tidak ada syarat pendahuluan, para pihak siap langsung eksekusi SPA langsung
Risiko Sedang Ada CP, tetapi bersifat administratif dan tidak mengubah struktur atau nilai transaksi CSPA yang otomatis berlaku sebagai SPA setelah CP terpenuhi
Risiko Tinggi Nilai transaksi strategis, melibatkan investor baru/pihak eksternal, potensi perubahan pasca due diligence, memerlukan izin regulator atau perubahan AD CSPA terlebih dahulu, kemudian SPA final setelah CP terpenuhi

Mengapa SPA atau CSPA saja tidak cukup

Perlu ditekankan bahwa SPA maupun CSPA hanya mengatur hubungan hukum antar pihak secara kontraktual. Agar transaksi sah sebagai tindakan korporasi berdasarkan UUPT, tetap harus dilaksanakan tahapan berikut:

  1. Persetujuan RUPS, apabila transaksi berdampak pada struktur kepemilikan, penerbitan saham baru, pengurangan saham, atau perubahan pengendalian

  2. Pencatatan dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) oleh Direksi—ini merupakan bentuk pengakuan sah.

  3. Pelaporan perubahan kepada Menteri Hukum dan HAM, jika perubahan berdampak pada data perseroan dalam SABH.

  4. Penyesuaian atas Shareholders’ Agreement (SHA) bila transaksi melibatkan pemegang saham baru atau mengubah hak pengendalian.

Insights Strategis

  • Pemilihan antara SPA dan CSPA tidak boleh hanya dilihat dari sisi kepraktisan, tetapi harus dilihat dari perspektif pengendalian risiko transaksional.

  • Semakin tinggi nilai atau dampak transaksi, semakin tepat dilakukan secara bertahap: CSPA untuk mengunci komitmen, SPA final setelah CP terpenuhi.

  • Dalam transaksi strategis, drafting CSPA harus cukup mengikat namun tetap memberi ruang untuk melakukan penyesuaian apabila ditemukan isu material selama proses CP.

  • SPA yang dibuat setelah CP terpenuhi berfungsi sebagai confirmation layer, memastikan tidak ada variabel penting yang berubah sebelum pelaksanaan transaksi.

  • Pelaksanaan RUPS dan pelaporan ke Sistem Administrasi Badan Hukum (SABH) Kementerian Hukum bukan tahap administratif yang dilakukan setelah transaksi, tetapi sebaiknya direncanakan sejak tahap awal negosiasi agar tidak menghambat eksekusi
    Pada akhirnya, keberhasilan transaksi bukan hanya diukur dari tercapainya kesepakatan jual beli saham, tetapi dari bagaimana transaksi tersebut dieksekusi secara sah, terkendali, dan tidak menyisakan ruang sengketa di masa mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pencarian
Artikel Terbaru

Artikel Terkait